Friday, 8 August 2014

Tak Semua Cokelat Hitam Menyehatkan

Tak Semua Cokelat Hitam Menyehatkan


    Cokelat hitam yang memiliki kadar kokoa lebih dari 65 persen banyak disebut sebagai makanan super untuk mencegah penyakti jantung. Tetapi jumlah flavonoid dalam cokelat tidak konsisten dan sering tak disebut dalam label.

Flavonoid merupakan antioksidan dalam tanaman kokoa yang menjadi kunci pencegahan penyakit karena menyehatkan pembuluh darah. Namun kadar flavonoid dalam setiap produk cokelat sangat bervariasi. Hal tersebut karena proses penyulingan dari setiap buah kokoa memengaruhi kadar antioksidannya.

Para peneliti dari Universitas Leeds di Inggris menganalisa 12 merk cokelat hitam dan menemukan level flavonoid pada tiap merk berbeda-beda, mulai dari 90 mg sampai 900 mg persajian.

Menurut Catherine Kwik-Uribe, PhD dari Mars Botanical, penelitian menyebutkan konsumsi 200 mg flavonoid kokoa setiap hari menyehatkan jantung. Tetapi karena kandungan flavonoid ternyata berbeda-beda pada tiap produk maka konsumen belum tentu mendapat manfaat kesehatan dari setiap produk.

"Konsumsi flavonoid cokelat secara teratur memang menyehatkan, tapi kita harus mengetahui dengan pasti berapa banyak yang ada dalam produk yang kita konsumsi. Sayangnya agak sulit mendapat rekomendasi yang pasti," katanya.

Kesulitan lainnya adalah kandungan flavonoid kokoa tidak dicantumkan dalam label kemasan.

Meski begitu jangan khawatir, bagaimanapun ngemil cokelat hitam dinilai lebih sehat dibanding camilan lain yang mengandung gula lebih tinggi.

Ini Cara Bedakan Es Batu Air Mentah dan Es Batu Air Matang

Ini Cara Bedakan Es Batu Air Mentah dan Es Batu Air Matang

Perbedaan es batu yang terbuat dari air mentah dan es batu yang terbuat dari air matang Perbedaan es batu yang terbuat dari air mentah dan es batu yang terbuat dari air matang

CILACAP - Saat kita pergi ke sebuah restoran ataupun pedagang kaki lima hanya untuk membeli sebuah minuman, maka biasanya kita memesan minuman yang mengandung es. Namun pernahkah terpikir dibenak kita, apakah aman es batu yang kita konsumsi tersebut. Terbuat dari air apakah es batu tersebut, air matang atau air mentah?

Es batu yang terbuat dari air mentah mengandung banyak bakteri e-coli. Bakteri ini banyak dijumpai pada air minum yang bisa berdampak buruk pada kesehatan. Apalagi bila pada es batu yang terbuat dari air mentah dimana bakteri ini belum tersterilisasi oleh proses pemanasan saat merebus. Bahayanya bakteri ini bagi tubuh adalah selain dapat menyebabkan masalah pencernaan yang serius, merusak ginjal dan melemahkan dinding usus pada anak kecil.

Memang sangat sulit untuk bisa membedakan es batu yang terbuat dari air mentah ataupun matang. Berikut cara membedakan es batu yang terbuat dari air mentah atau matang seperti dirangkum dari berbagai sumber :

Es batu dari air mentah
Es batu yang terbuat dari air mentah terlihat berwarna putih layaknya susu. Hal tersebut dikarenakan masih banyak gas atau oksigen yang berada didalamnya. Kebanyakan es batu yang terbuat dari air mentah ini adalah berupa es balokkan atau es dalam bungkusan plastik. Es balok ini sudah pasti sangat berbahaya untuk dikonsumsi dan tidak baik untuk kesehatan. Apalagi bila air untuk membuat es batu ini diambil dari air sungai yang tercemar.

Es batu dari air matang
Sementara itu es yang terbuat dari air matang akan terlihat bening. Hal tersebut dikarenakan gas di dalam air terlepaskan ketika proses perebusan terjadi. Selain itu ketika pendinginan terjadi sedikit gas yang terperangkap dalam es karena kandungan udara dalam air berkurang.  Es semacam ini biasanya disebut sebagai es kristal atau ice cube.

Es kristal ini memiliki bentuk seperti pipa dan berlubang, selain itu sekarang ini sudah banyak dijumpai di berbagai restoran. Es batu jenis ini aman dikonsumsi dan tidak beresiko memiliki kandungan bakteri didalamnya karena air yang dipakainya adalah air matang.

Nah sekarang tentu Anda sudah mengetahui dan bisa membedakan mana es batu yang terbuat dari air mentah dan air matang. Semoga bermanfaat.

Thursday, 7 August 2014

Tuding Pilpres Lebih Buruk dari Korut, Prabowo Dinilai Bunuh Diri

Tuding Pilpres Lebih Buruk dari Korut, Prabowo Dinilai Bunuh Diri



Jakarta - Di sidang MK, Prabowo Subianto curhat soal mendapat nol suara di ratusan TPS. Atas perolehan itu dia menyebut pelaksanaan Pilpres di Indonesia seperti di negara totaliter, fasis dan komunis, bahkan lebih buruk dari Korut. Pernyataan ini diyakini bisa menyerang balik dirinya.

"Pernyataan Prabowo itu berlebihan dan emosional, seharusnya dia menyampaikan argumen kunci yang berdasarkan data, jangan banyak opininya. Itu bisa jadi bumerang bagi Prabowo, tidak melahirkan " kata pengamat politik dari UGM Arie Sujito saat berbincang dengan detikcom, Rabu (6/8/2014).

Arie mengingatkan, kenyataan yang pernah ramai dibicarakan, adalah kasus 17 TPS di Sampang, Madura. Di 17 TPS itu, Jokowi-JK mendapat nol suara.

"Kalau dibalikkan dengan fakta di lapangan, itu bunuh diri statemen politik Prabowo yang seperti itu," ujarnya.

Pernyataan Prabowo diyakini Arie bisa menuai cibiran dari masyarakat. Seharusnya Prabowo lebih mengedepankan penyampaian fakta, bukan opini tak berdasar.

"Ini kan mencari keadilan, bukan membangun opini. Semakin banyak emosi, semakin banyak penilaian publik itu mengada-ngada," tutur Arie.

Di sidang MK, Prabowo Subianto menyuarakan kegalauan perolehan nol suara di ratusan TPS. Atas perolehan itu, dia menilai pelaksanaan Pilpres di Indonesia lebih buruk dari Korea Utara.

"Bahkan di Korea Utara pun tidak terjadi, mereka bikin 97,8 persen. Di kita, ada yang 100 persen, ini luar biasa. Ini hanya terjadi di negara totaliter, fasis dan komunis," kata Prabowo di ruang sidang MK, di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (6/8/2014).

Pemilu di Korut: 100% Dimenangi Kim Jong Un

Pemilu di Korut: 100% Dimenangi Kim Jong Un


Jakarta - Mengaku mendapat nol suara di ratusan TPS, Prabowo Subianto menilai Pilpres di Indonesia seperti di negara totaliter, fasis dan komunis, bahkan lebih buruk dari Korea Utara (Korut). Padahal, di Korut, pemilihan kepala negara hanya diikuti calon tunggal yang menang 100 persen.

Tanpa ada pemilih abstain, Kim Jong Un meraih 100% suara dalam pemilu di Korea Utara. Semua pemilih menjatuhkan pilihannya pada pemimpin muda Korea Utara ini, tanpa terkecuali.

"Ini adalah ekspresi dari dukungan mutlak rakyat dan kepercayaan mendalam pada pemimpin tertinggi Kim Jong Un, karena mereka setia kepadanya, memegang dia di harga tinggi," kata kantor berita resmi Korea Utara seperti dilansir oleh AFP, 11 Maret lalu.

Media setempat menyatakan seluruh penduduk Korea Utara mengikuti pemilihan parlemen ini. Tidak ada yang melakukan golput.

"Semua pemilih mengambil bagian, tak ada satupun yang abstain dan semua menjatuhkan pilihannya pada Kim," tulis kantor berita tersebut.

Pemilihan suara bersifat wajib bagi seluruh penduduk Korea Utara kecuali yang terdaftar di luar negeri. Dalam sistem pemilu Korea Utara, terdapat 700 daerah pemilihan dan setiap daerah pemilihan hanya memiliki satu kandidat yang ditentukan negara. Kondisi ini memastikan kemenangan mutlak Kim di setiap lokasi pemungutan suara.

Pemilihan ini digelar untuk menentukan Majelis Rakyat Agung Korea Utara dan diadakan setiap lima tahun sekali. Sistem demokrasi seperti ini baru pertama kali digelar di Korea Utara sejak dipimpin oleh Kim.

Di sidang MK hari ini, Prabowo Subianto menyuarakan kegalauan perolehan nol suara di ratusan TPS. Atas perolehan itu, dia menilai pelaksanaan Pilpres di Indonesia lebih buruk dari Korea Utara.

"Bahkan di Korea Utara pun tidak terjadi, mereka bikin 97,8 persen. Di kita, ada yang 100 persen, ini luar biasa. Ini hanya terjadi di negara totaliter, fasis dan komunis," kata Prabowo di ruang sidang MK, di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (6/8/2014)

Pilpres ala Korut, Tak Ada Capres Selain Kim Jong Un

Pilpres ala Korut, Tak Ada Capres Selain Kim Jong Un

foto: AP/KNA

Jakarta: Capres Prabowo Subianto menyebut penyelenggaraan Pilpres 2014 di Indonesia lebih buruk dibanding Pilpres di Korea Utara (Korut). Padahal kontestannya cuma ada Kim Jong Un dan itu pun karena mewarisi kekuasaan dari sang ayah, Kim Jong Il, presiden sebelumnya.

Korea Utara merupakan negara yang menyatakan secara sepihak sebagai negara Juche (percaya dan bergantung kepada kekuatan sendiri). Setelah Kim Il-Sung meninggal 1994 lalu, ia tidak tergantikan dan justru mendapatkan gelar "Presiden Abadi".

Otomatis dalam pilpres terakhir di Korut digelar 9 Maret 2014 lalu menjadikan Kim Jong Un sebagai kandidat tunggal pemimpin Korut. Tidak ada pilihan lain bagi rakyat Korut untuk memilih pemimpinnya karena dalam kartu suara hanya terdapat satu nama yakni Kim Jong Un.

Semua warga Korut pun mau tidak mau harus memilih Kim Jong Un karena pemilihan ini bersifat wajib bagi warga Korut. Sehingga, Kim Jong Un meraih suara 100 persen.

Pemilu di Korut juga berfungsi sebagai sensus penduduk. Pemerintah memeriksa daftar pemilih dan jika nama seseorang itu tidak tercantum dalam daftar, maka orang itu akan diselidiki.

Di dalam pemilu di Korut 2014, terdapat 700 daerah pemilihan dimana setiap daerah hanya memiliki satu kandidat yang ditentukan negara dan itu adalah Kim Jong Un.

Sama seperti di Indonesia, Pemilu di Korut digelar setiap lima tahun sekali. Sistem pemilihan ini merupakan yang pertama dilakukan sejak Kim mewarisi kekuasaan sang ayah, Kim Jong Il yang meninggal 2011 lalu.

Partai Buruh Korea atau disebut juga Partai Pekerja Korea adalah partai yang berkuasa di Korut sejak didirikan oleh kakek Kim Jong Un, Kim Il Sung. Namun, sebenarnya ada tiga partai politik di Korut yang kemudian bergabung membentuk Front Demokratik untuk Reunifikasi Negara.

Sebelumnya, dalam memberikan kata pengantar saat sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di MK, Prabowo tidak percaya dirinya dan Hatta Rajasa yang didukung tujuh partai besar bisa memperoleh nol suara di beberapa TPS. Ia pun menyebut pelaksanaan Pilpres di Indonesia lebih buruk daripada pemilu di Korea Utara.

"Bahkan di Korea Utara pun tidak terjadi, mereka bikin 97,8 persen. Di kita, ada yang 100 persen, ini luar biasa. Ini hanya terjadi di negara totaliter, fasis dan komunis," kata Prabowo di ruang sidang MK, di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (6/8/2014).
(Lhe)

Benarkah Tidak Ada Pemilu di Korea Utara?

Benarkah Tidak Ada Pemilu di Korea Utara?

Pertanyaan menarik ini untuk menanggapi pernyataan seorang dekan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Padjajaran Arry Bainus. Arry Bainus mengeluarkan pernyataan bahwa di Korea Utara tidak ada pemilu karena menanggapi klaim Prabowo Subianto bahwa Pilpres lebih buruk mutunya dibanding pemilu di Korea Utara. Pilpres tahun 2014 ini diklaim buruk oleh Prabowo Subianto karena dia memperoleh nol suara di ratusan TPS  tanpa menyebutkan di TPS mana. Menurut Prabowo pemilu di Korea Utara lebih baik karena setidaknya menghasilkan 98,7% suara buat presiden terpilih tidak 100%. Sedangkan di Indonesia, dia yang didukung oleh 7 partai besar yang memperoleh persentase 60% suara legislative dia memperoleh 0%. Prabowo bahkan menuduh pemilu ini hanya pantas terjadi di Negara Fasis, Totaliter dan komunis.
Ternyata Korea Utara baru saja mengadakan pemilu di tahun 2014 ini. Tetapi berbeda dengan pemilu yang ada di Indonesia dimana memilih beberapa nama orang sebagai pemimpin maka di Korea Utara hanya berisikan tulisan “Kim Jong Un” (sumber: kompas.com). Dan uniknya pemilihan ini sifatnya wajib bagi seluruh rakyat Korea Utara sehingga tidak ada golput. Oleh karena itu tidaklah heran jika Kim Jong Un mendapat suara 100% bukan 98,7% seperti disebutkan oleh Prabowo. Hal inilah yang mungkin dianggap bukan sebagai pemilu yang demokratis oleh Dekan FISIP UNPAD. Hal ini perlu diketahui karena sebagian pendukung Prabowo menganggap apa yang diungkapkan oleh Dekan FISIP UNPAD tadi adalah kebodohan karena ternyata ada pemilu di Korea Utara. Jadi memang ada pemilu di Korea Utara tetapi tidak demokratis karena hanya sandiwara saja. Jadi dengan mengatakan bahwa mutu pemilu kita lebih jelek daripada pemilu di Korea Utara itu sama saja omong kosong!
Bagi pendukung Prabowo, ada kesalahan kecil yang diungkapkan oleh orang lain terlepas itu pendukung Jokowi atau bukan dalam mengomentari kesalahan Prabowo maka akan jadi bahan bully oleh mereka. Prabowo bagi pendukungnya adalah titisan Allah seperti pengakuan Ibu Nurcahaya Tandang dalam sebuah video yang dapat dilihat di Youtube ini (http://www.youtube.com/watch?v=DsCS1hMwW_k). Diakui bahwa banyak kalangan intelektual menjadi pendukung setia Prabowo dan celakanya intelektualitas mereka seakan tertutupi oleh keyakinan mereka bahwa tidak ada yang jelek di Prabowo. Mereka tidak lagi dapat berpikir logis bahwa saat ini Prabowo tengah berusaha memecah belah bangsa ini agar ambisinya menjadi presiden RI terlaksana.

Ucapan Prabowo dan PKS soal MK yang jadi olok-olok di sosmed

JAKARTA - Anggota Timses Prabowo Subianto - Hatta Rajasa sekaligus Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Taufiq Ridho menjadi bahan ejekan di media sosial. Taufiq mengibaratkan, pihaknya kesulitan mengumpulkan bukti-bukti kecurangan Pilpres untuk diajukan dalam sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) seperti Roro Jongrang yang membuat Gunung Tangkubanparahu.

Dalam sebuah wawancara, Taufiq mengungkapkan sulitnya mengumpulkan bukti-bukti yang berjumlah banyak itu untuk dibawa ke persidangan.

"Kalau data, kami sudah ada. Kalau soal data kita ngambil dari (form) C1, D1, dan DB. Itu data semua ada di kita. Tinggal memilah-milahnya. Ini tidak bisa dilakukan seperti Roro Jongrang membuat Tangkuban Perahu (yang menurut legenda dilakukan hanya dalam waktu semalam)," kata Taufiq di seperti dimuat dalam situs resmi PKS, Jakarta, belum lama ini.

Akibat pernyataan itu, Taufiq dikecam sejumlah pengguna media sosial. Banyak pula yang menyindir sekjen PKS tersebut.

"Roro Jonggrang dibikin galau oleh PKS krn dituduh terlibat dalam pembuatan gunung Tangkuban Perahu," tulis @StefanusRA.

"History berubah. Yang bikin Tangkuban Perahu adalah Roro Jonggrang. #okesip," kata @pahdinii_.

"Ooo... Jd setelah roro jonggrang bikin tangkuban perahu, korea utara juga ada pilpres. Banyak pengetahuan baru ya hari ini?" sahut @lucywiryono.

Dalam kisahnya, Gunung Tangkubanparahu sendiri terbentuk dari kisah Sangkuriang yang ingin menikahi ibu kandungnya bernama Dayang Sumbi. Demi menikahinya, Sangkuriang diberikan syarat untuk membangun bendungan di sebuah bukit sebelum ayam berkokok.

Karena tak mau anaknya sukses, Dayang Sumbi kemudian membuat ayam berkokok sebelum waktunya. Tahu telah ditipu, Sangkuriang murka dan menendang perahu buatannya hingga terbalik, hingga terbentuklah Gunung Tangkuban Perahu.

Sementara, kisah Roro Jongrang sendiri lahir dari pembangunan Candi Prambanan. Dengan cerita yang hampir sama, di mana Pangeran Bandung Bondowoso berupaya mempersunting Roro Jongrang, namun diberi syarat membangun seribu candi.

Merasa ditipu, Bandung Bondowoso amat murka dan mengutuk Rara Jonggrang menjadi batu. Sang putri berubah menjadi arca yang terindah untuk menggenapi candi terakhir.

Saat berpidato di MK, capres Prabowo Subianto berkeluh kesah soal kecurangan-kecurangan yang dialaminya saat pilpres lalu seperti mendapat suara nol di beberapa TPS. Prabowo menyatakan tak mungkin dirinya mendapat suara nol karena didukung tujuh partai besar dan mendapat 62 persen suara di pemilu legislatif.

"Ini hanya terjadi di negara seperti Korea Utara," kata Prabowo dalam sidang sengketa pilpres MK, Rabu (6/8).

"Maaf saya ralat. Di Korea Utara saja tidak terjadi. Mereka pun bikin 97 persen, atau 99 persen. Ini hanya terjadi di negara fasis di negara komunis. Di negara lain tidak ada," kata Prabowo .

Sontak, ucapan Prabowo itu mendapat beragam komentar di media sosial seperti Twitter dan Facebook. Dari mengolok-olok hingga mengecam Prabowo yang membandingkan pemilu di Indonesia dengan di Korea Utara.

"Sebego-begonya gue belajar sejarah, baru kali ini gue tahu ada pemilihan umum demokratis di Korea Utara. *Sementara itu, Roro Jonggrang dibikinin Tangkuban Perahu*" tulis Ninin di status Facebooknya.

"Wah tim Prabowo bilang pemilu kita kaya Korut? Emang di korut ada pemilu? Koq jadi delusional gini ya?" cuit akun @ShafiqPontoh.

"Jika Pak Prabowo katakan Korut lebih baik dari RI, mungkin sudah saatnya ia pindah kesana - pesan saja: ajak Debi Rhoma juga ya pak :)" kicau @danrem di Twitternya.

Demikian juga dengan akun @WJB yang nyinyir: "Jangan2x yg dimaksud prabowo korut itu kroya utara purwokerto. :))"

"Pak Prabowo nggak pernah bersyukur. Membandingkan pilpres kita lebih buruk dr Korut itu sdh keterlaluan @SBYudhoyono @boediono," tulis @chamadhojin.

Sidang perdana gugatan Pilpres 2014 di Mahkamah Konstitusi (MK) yang digelar hari ini (6/8), Capres Prabowo Subianto juga memberi kesaksian adanya Posko Merah Putih di Kabupaten Banyuwangi dibakar oleh orang tak dikenal.

Ada beda informasi terkait kesaksian capres nomor urut satu itu. Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Timur, Supriyatno saat dikonfirmasi, membenarkan informasi tersebut. Hanya saja, dia tidak bisa menjelaskan secara detail lokasi Posko Merah Putih yang dibakar tersebut.

"Memang ada (posko yang dibakar di Banyuwangi), tapi saya belum tahu lokasi pastinya. Karena semua laporan langsung masuk ke tim advokasi kita yang di pusat," elak Supriyatno di Surabaya, Rabu (6/8).

Namun, ucapan Supriyatno itu dibantah oleh Ketua Tim Media Posko Merah Putih Jawa Timur, Hendro Tri Subiyantoro. "Bukan dibakar, kalau pelemparan memang iya," kata Hendro yang tengah mendampingi Supriyatno usai menggelar demo di Kantor KPU Jawa Timur.

Kedua politisi pendukung pasangan Prabowo - Hatta itupun langsung mengontak beberapa timnya yang ada di Banyuwangi. Supriyatno sendiri, langsung menghubungi Ketua Tim Merah Putih Kabupaten Banyuwangi, Eko Susilo Nurhidayat.

Dalam percakapan itu, Eko menegaskan memang tidak ada pembakaran Posko Merah Putih di Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, melainkan aksi pelemparan batu oleh orang yang tak dikenal.

"Saya sudah pernah mengklarifikasi itu saat berada di Surabaya. Waktu itu, pertemuan di Hotel Narita Surabaya. Tidak ada pembakaran, yang ada hanya pelemparan batu," kata Eko kepada merdeka.com melalui telepon seluler Supriyatno.

Bahkan, Eko mengaku tidak setuju jika kejadian itu ikut dimasukkan dalam materi gugatan ke MK. "Saya memang tidak setuju kalau masalah itu masuk dalam materi gugatan," tandas dia.

Sayangnya, ternyata materi itu masuk dalam gugatan dan telah disampaikan oleh Prabowo di depan sidang yang digelar perdana hari ini.

Akibat menyampaikan hal yang dianggap kebenarannya masih simpang siur, Prabowo pun mendapat kritikan di dunia maya.