Saturday, 12 July 2014

Tahun Ajaran Baru Efektif Mulai 4 Agustus 2014

Tahun Ajaran Baru Efektif Mulai 4 Agustus 2014



Sekolah Kep. Seribu-n

JAKARTA (Pos Kota)- Tahun ajaran 2014/2015 berlaku efektif  4 Agustus 2014 atau usai Hari Raya Idul Fitri. Meski demikian Dirjen Pendidikan Dasar Kemendikbud Hamid Muhammad meminta agar sekolah tetap memanfaatkan sepekan bulan Ramadhan untuk kegiatan-kegiatan yang mendukung pembelajaran akademik. “Bisa untuk pesantren kilat, untuk kegiatan yang bersifat menumbuhkan nasionalisme, atau untuk ekstrakurikuler,” jelas Hamid Muhammad, Selasa (8/7).
Diakui berdasarkan kalender akademik, semestinya tahun ajaran baru akan dimulai per 14 Juli 2014. Tetapi karena jatuh dibulan puasa dan lamanya hanya sepekan, sekolah diberikan kebebasan memanfaatkan untuk kegiatan lainnya yang bersifat edukatif.
Melalui surat edaran bernomor 4035/D/DM/2014, Kemendikbud meminta agar Dinas Pendidikan di daerah  mengarahkan sekolah melakukan pembelajaran yang bersifat pembinaan karakter.
Demikian halnya dengan Dirjen Pendidikan Menengah Achmad Jazidie. Ia mengatakan bahwa pada minggu pertama tahun ajaran baru yang jatuh pertengahan bulan Ramadhan, sekolah dihimbau untuk tidak libur.
“Kita ingatkan kepada sekolah untuk mengefektifkan pendidikan-pendidikan yang sifatnya pembinaan karakter, menimbulkan nasionalisme kepada siswa,” ujarnya.
Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan sekolah selama Ramadhan antara lain menyelenggrakan proses pembelajaran awal dalam bentuk pengisian diskusi/ceramah Ramadan untuk memperkuat nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME, serta membangun semangat persaudaraan secara bersama-sama di kalangan peserta didik.
Bisa juga sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran yang berorientasi pada penanaman nasionalisme, budi pekerti, dan penguatan pendidikan karakter bagi peserta didik.
Sedang untuk kelas 1, 7 dan 10 bisa diisi dengan kegiatan masa orienstasi peserta didik baru berupa pengenalan program sekolah, lingkungan sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri peserta didik dan kepramukaan. Ini sebagai pembinaan awal kea rah terbentuknya kultur sekolah yang kondusif bagi proses pembelajaran lebih lanjut sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Baik Hamid maupun Jazidie mengingatkan agar kegiatan pengenalan lingkungan sekolah baik berupa MOS atau OSPEK tidak dilakukan dengan cara kekerasan fisik dan psikis. Juga tidak dilakukan diluar lingkungan sekolah. “Jangan lupa tetap melibatkan guru, bukan siswa kelas senir,” tambah Jaziedi.

No comments:

Post a Comment